Asal Usul Keluarga Sungkar di Indonesia

Home / budaya / Asal Usul Keluarga Sungkar di Indonesia
Syakieb Sungkar

Sekali waktu saya dihubungi oleh seorang teman, yang mempunyai kenalan berfam Sungkar yang dia kenal sewaktu kuliah di Bandung dulu. Teman saya itu juga mempunyai kenalan dari Solo yang bermarga Sungkar juga [yang menikah dengan seorang keturunan Arab bersuku Baasir asal Surabaya dan teman saya itu punya teman juga bin Sungkar dari Semarang. Dan temannya teman saya ini adiknya juga binti Sungkar yang menikah dengan keturunan Arab berbangsa Baredwan. Rupanya teman saya itu mempunyai banyak sahabat orang2 keturunan Arab. Padahal dia sendiri orang Indonesia asli, bukan keturunan Arab. Dia bertanya sekali lagi apakah saya masih berkerabat dengan salah satu dari mereka. Waduh saya susah jawabnya, barangkali dia kira semua keturunan Arab itu saling kenal mengenal.
Keluarga kami berasal dari Solo. Para Sungkar yang teman saya sebutkan itu, juga ada yang berasal dari Solo. Sungkar dan marga2 Arab lainnya datang dari Yaman Selatan pada abad ke 18. Saya tidak tau apa motivasi mereka bepergian dan meninggalkan Yaman Selatan, padahal dari dongeng kakek2 kami, Yaman Selatan adalah negeri yang paling subur di seantero jazirah Arab.
Kenapa pindah? Jawabnya saya temukan ketika saya berkunjung ke kantor Pusat perusahaan saya bekerja, yaitu STC, di Riyadh. Salah seorang Direktur disana menjelaskan bahwa orang2 Yaman Selatan berbeda dengan orang Arab Saudi, karena mereka mempunyai jiwa petualang dan perantau (mirip orang Padang).
Kenapa pindahnya abad 18? Karena saat itu transportasi laut sudah mulai modern dan mengangkut manusia kemana saja. Mereka pindah sesuai dengan jalur laut orang Belanda dan Portugis. Dan demikianlah orang2 Yaman Selatan mendarat di Afrika. India, Thailand, Malaysia, Singapura, Aceh, Medan, Palembang, Banjarmasin, Balikpapan, Jakarta, Cirebon, Tegal, Semarang, Surabaya, Madura, Bali, Makassar dan Ambon.
Biasanya mereka mengincar kota2 Pelabuhan atau pesisir. Kepindahan kearah pedalaman seperti Bogor, Bandung, Solo dan Malang adalah perkembangan kemudian. Itu bisa terjadi karena seabad kemudian mereka sudah mempunyai finansial yang cukup sehingga bisa membangun industri, seperti pabrik batik di Solo. Ada alasan lain, mereka mencari tempat2 yang dingin di pegunungan untuk ber-senang2 sambil mengawini penduduk setempat. Karena orang Yaman dilarang membawa wanita kalau merantau.
Ada sekitar 1000 marga di Yaman Selatan yang berpindah ke Indonesia. Sungkar, Asseghaf dan Alatas adalah tiga yang terbesar. Marga Sungkar terpecah lagi menjadi 9 sub-marga, seperti Al-Urmy, Al-Ghurfy, Awood, Abud, dll. Nama panjang saya misalnya, Syakieb Ahmad Salim bin Mubarroq Sungkar Al-Ghurfy. Itu artinya Syakieb anaknya Ahmad, cucunya Salim, cicitnya Mubarraq dari suku Sungkar yang berasal dari desa Ghurfah di Yaman Selatan.
Jadi orang yang berasal dari Yaman itu asal-usulnya bisa dilacak. Dan masih dikenal di Yaman Selatan. Walaupun buyut saya, Mubarroq, tidak pernah kembali pulang ke Yaman Selatan namun mereka masih berhubungan melalui surat menyurat. Contohnya tahun lalu saya masih mendapat warisan dari penjualan tanah di Yaman Selatan. Saya sudah tidak tau lagi itu warisan dari siapa, karena kami tidak pernah bertemu. Dan mereka pun tidak pernah datang ke Indonesia.
Dari semua pecahan marga Sungkar, sub-marga Al-Urmy yang paling berhasil. Ada keluarga Said Oemar Sungkar (SOS) dan Said Ahmad Sungkar (SAS). Mereka adalah konglomerat di tahun 50-an dan 60-an. Tahun 70-an musim berganti, Suharto lebih suka berdagang dengan orang Cina. Namun keturunan mereka masih tetap kaya, misalnya Helmy Sungkar yang menghabiskan uangnya untuk balapan mobil. Termasuk anaknya Rifat Sungkar.
Tiga tahun yang lalu saya ditelpon oleh Wardah Sungkar, seorang Notaris terkenal di Jakarta. Dia bilang begini, “Syakieb, ini saya nenek kamu nih, Wardah, kamu kan bekerja di perusahaan Telekomumikasi, coba kamu carikan pekerjaan untuk Rifat, keponakan kamu. Dia baru selesai sekolah di Australia”. Saya panggil Rifat, kemudian Rifat saya jadikan model iklan Blackberry. Kami mencoba menghubungkan antara kecepatan akses Blackberry dengan kecepatan balap mobil. Dari honor proyek Blackberry itu, Rifat menggunakannya untuk mengawini seorang cewek bule dari Perth. Sejak itu saya tidak pernah berkontak atau berhubungan lagi dengan Wardah dan Rifat.
Kami bertetangga dengan Mark Sungkar, bapaknya Shereen Sungkar, artis yang suka muncul di TV Infotaintment itu. Ibu saya yang suka berkunjung ke rumah Mark, kadang2 bertukar makanan. Saya tidak berteman dengan Mark karena beda angkatan, dia lebih senior. Saya datang ke rumah Mark kalau lebaran saja, mengantar ibu saya. Saya bertemu Mark kalau ada acara pesta atau launching, kadang2 dia inget saya, kadang2 dia lupa. Minggu lalu saya berjumpa Mark di sebuah pesta kawinan di Taman Mini. Saya salaman, tapi saya tidak mau me-ngenal2kan diri, karena kali ini saya rasa dia sudah lupa lagi.
Jadi begitulah, kalau ada orang tanya apakah kenal si ini atau si itu, yang bermarga Sungkar. Jawabnya kenal, tetapi tidak berhubungan. Karena tidak silaturahmi. Orang keturunan Yaman di Indonesia mirip orang Batak, banyak tapi sudah tidak saling kenal karena beda generasi dan lokasi. Jangan2 ada 10 juta orang asal Yaman di Indonesia ini. Apakah kami bersaudara, ya – kalau diurut asal-usulnya.
Contohnya, Kakek saya punya 12 anak, dari masing2 anak rata2 melahirkan 5 anak lagi. Jadi kakek saya punya 60 cucu dan saya punya 60 sepupu. Sekarang para sepupu itu rata2 punya 3 anak. Jadi saya sudah punya sekitar 180 keponakan dari adik2 dan para sepupu, yang sudah saya tidak kenal lagi namanya satu persatu ….
Ini juga ada cerita lucu.
Begitu selesai TPB (tingkat 1) ITB, kami dijuruskan ke Elektro. Disana saya bertemu dengan teman sekelas, namanya Said Sungkar. Dia asal Solo.
Setelah berteman di Elektro sekian bulan, dia mengajak saya berkunjung ke rumah pamannya di bilangan jalan Gatot Subroto, Bandung. Nama pamannya Anies Sungkar. Setelah ngobrol, Anies bertanya saya anak siapa. Saya bilang saya anak Ahmad, cucunya Salim. Orang Solo selalu memberi julukan dibelakang nama, untuk membedakan. Karena begitu banyak orang bernama Salim, Ahmad, Said, dll. Saya bilang kakek saya Salim Areng (kakek saya satu2nya orang yang berjualan areng di Solo – disamping dagang batik juga tentunya). Tinggalnya di jalan Yosodipuran II (rumah itu masih ada, tidak berubah sampai sekarang).
Kemudian Anies masuk ke kamarnya mengambil sebuah foto ukuran besar. Itu sebuah foto lama anak2 SD di Solo lulusan tahun 46. Disitu Anies menunjukkan ayah saya berdiri disamping Ahmad Bagir (ayah Haidar Bagir, penerbit Mizan) dan Ella (ibu teman saya, Said Sungkar). Ternyata ayah saya dan ibunya Said teman sekelas waktu di SD.
Hubungan saya dengan orang Solo agak jauh karena kakek saya memboyong seluruh keluarga ke Jakarta tahun 1952. Kakek cuma meninggalkan Sofia anak tertua di Solo karena dia sudah menikah. Rumah di Yosodipuran dijual. Sofia punya rumah baru di Sangkrah, hidup bersama suaminya.
Kepindahan ke Jakarta karena dua alasan. Alasan pertama, pada saat perang kemerdekaan kakek menurunkan anak2nya (Muhammad, Abdurrahman, dan Abdullah) menjadi tentara kemerdekaan. Setelah merdeka alih-alih diapresiasi, orang2 keturunan Arab malahan mendapat diskriminasi dari orang2 Komunis, karena dicap Islam dan Pedagang, musuhnya PKI 1948. Sehingga kakek sudah merasa tidak nyaman hidup di Solo.
Alasan kedua, kakek ingin mencari hidup baru di Jakarta yang sedang tumbuh dan lebih egaliter. Serta menyekolahkan anak2nya di sekolah modern (ayah saya kemudian kuliah di UI).
Setelah saya membawa foto yang diberikan Anies ke Jakarta untuk diperlihatkan ayah. Ayah saya menangis. Dia baru tau generasi dibawahnya saling berteman (Haidar di Bandung, Said dari Solo, saya dari Jakarta – saling kenal mengenal).
Begitulah cerita keluarga kami yang Sungkar itu. Lama kelamaan wajah Arab dan bahasanya menghilang karena perkawinan dengan orang Indonesia asli. Buyut saya menikah dengan orang Jawa. Jadi darah Arab kakek saya tinggal 50%. Kakek saya kemudian menikah dengan wanita Palembang, sehingga darah Arab ayah saya tinggal 25%. Ayah saya kawin dengan orang Sunda, sehingga saya tinggal 12,5%. Saya menikah dengan perempuan Betawi, sehingga anak saya cuma punya 6,25%. Jadi yang masih tertinggal cuma marga Sungkar-nya saja, sebagai kenang2an 
Bahasa juga demikian, kemampuan berbahasa Arab tidak diturunkan kebawah. Ayah saya juga agak aneh. Dia sebetulnya sangat berbakat dengan bahasa, sehingga dia menguasai banyak bahasa asing. Kalau ayah saya bercakap-cakap dengan kakek, dia menggunakan bahasa Arab (dengan gramatika yang tidak sempurna). Tetapi kalau berbicara dengan kakaknya, ayah saya menggunakan bahasa Belanda. Lucunya kalau dia ngobrol dengan adiknya, dia menggunakan bahasa Jawa yang halus. Saya masih ingat ayah saya pernah marah kepada adiknya, karena paman saya menggunakan bahasa Jawa yang kasar. Sementara ayah saya kalau berbicara dengan saya, dia akan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karenanya kalau saya menulis, tata bahasanya sangat baik (sombong nih). Dan itu sebabnya saya tidak bisa berbahasa Jawa walaupun saya mengerti kalau mendengar orang ngomong Jawa. Apalagj bahasa Arab, saya sama sekali tidak paham.
Begitu saya dipanggil ke kantor Pusat perusahaan saya STC, di Arab Saudi sana, orang Arab itu bertanya kepada saya, apakah saya bisa berbahasa Arab? Saya jawab tidak. “Bangsa Arab itu ditentukan oleh bahasanya, bukan agamanya atau marganya. Orang Lebanon itu beragama Kristen tetapi berbahasa Arab, karenanya disebut orang Arab. Sementara orang Iran yang berhidung panjang dan beragama Islam, tidak disebut orang Arab, karena menggunakan bahasa Iran”, demikian gumam orang STC. Saya cuma mengangkat bahu, “Indonesia is my country”, jawab saya singkat.

Sumber dan izin dari :
Bapak Syakieb Sungkar

(Rumah69)

Comments

comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *